Sinopsis: Bercerita tentang kamp pelatihan Sepak Bola "Blue Lock" berisikan 300 anak-anak SMA seluruh Jepang yang diseleksi hingga menyisakan 1 striker handal untuk Timnas U-20. Yuichi Isagi terpilih sebagai peringkat ke-299 calon striker nomor 1 Piala Dunia. Sejak kecil Yuichi memiliki impian mengikuti jejak karir Noel Noa, menjadi pesepak bola terkenal. Kini mimpinya semakin dekat meski harus memunculkan egoistis dalam dirinya.
Permulaan alur dimulai ketika Timnas Jepang yang selangkah lagi hampir masuk ke Piala Dunia terpaksa mundur karena kekalahannya. Asosiasi Sepakbola Jepang mengusulkan untuk mencari striker unggul nomor 1 di dunia. Sekitar 300 anak SMA seluruh Jepang yang memiliki benih menjadi striker diundang ke dalam camp Blue Lock untuk dilatih dan diseleksi. Hanya 1 striker yang akan masuk Timnas U-20 dari 299 orang lainnya.
Yuichi Isagi, salah seorang anak SMA peringkat ke-299 berhasil memasuki seleksi awal dan bergabung dengan Blue Lock. Meski berada di peringkat paling rendah, Yuichi tetap mengobarkan semangat demi impiannya menjadi striker perwakilan Jepang di Piala Dunia mengikuti jejak idolanya, Noel Noa. Namun, prinsip yang diajarkan dalam camp Blue Lock berbeda dengan yang diketahuinya selama ini. Awalnya, Yuichi memiliki prinsip bahwa sepakbola merupakan permainan tim beranggotakan 11 orang. Berbanding terbalik dengan prinsip tersebut, Jinpachi Ego, pelatih di Blue Lock mencuci otak semua anak dengan menanamkan sisi egois dalam diri mereka. Hanya untuk menang demi menjadi striker sepak bola Jepang nomor 1 di dunia.
Alur: Futuristik
Tokoh: Individu dengan impian menjadi pemain sepak bola dunia
Komik di Indonesia identik dengan bacaan anak-anak, karena isinya berupa cerita bergambar dengan dialog yang hanya dijadikan hiburan semata. Padahal, nyatanya komik memiliki nilai dan kritik sosial. Awal kemunculan komik di Indonesia sangat panjang dan berkaitan erat dengan peninggalan kebudayaan nusantara seperti relief-relief pada candi. Jadi, bisa dikatakan bahwa Candi Borobudur sebagai awal munculnya komik di Indonesia.
Perkembangan komik cukup pesat pada tahun 1960 sampai 10 tahun ke depan, menghasilkan cerita yang beragam seperti wayang (Komik Petruk Gareng karya Tatang S.), tokoh pahlawan (Komik Gundala Putra Petir karya Hasmi), mistik (Komik Journal of Terror karya Sweta Kartika) dan humor (Komik strip Si Juki). Di periode ini, mayoritas pembaca Indonesia lebih mengenal komik luar negeri daripada komik buatan lokal. Manga, Manhwa, dan Manhua banyak diminati ketimbang karya komikus pribumi.
Pada tahun 1990-an, komik berkembang pesat di pasar Indonesia dengan isi cerita yang ringan dan gambar sederhana yang dikemas menarik. Perkembangan komik luar negeri seperti Amerika dan Eropa menampilkan tema fantasi dengan tokoh pahlawan. Komik sudah populer di masyarakat lokal karena mudah dinikmati berbagai kalangan dari muda sampai tua. Melalui gambar yang menarik, pesan atau kritik dapat disampaikan dengan mudah oleh komikus melalui karyanya.
Bentuk komik di Indonesia beragam tergantung pada jenis medianya. Komik Strip sering termuat dalam surat kabar harian dan menyebar luas di internet. Bentuk paling general yaitu buku komik yang terbebas dari media cetak lain seperti komik strip. Lalu, ada Novel Grafis yang menyajikan cerita dengan tema serius sehingga lebih cocok untuk orang dewasa. Saat ini banyak platform seperti Webtoon, Komiku yang menyajikan bacaan komik gratis berbasis internet.
Uncharted Love, komik keempat yang baru dilahirkan Chairunnisa berlatarkan kearifan lokal dan konflik sehari-hari. Komik ini pertama kali diterbitkan pada 23 Februari 2026 di Line Webtoon Indonesia. Seperti komik Chairunnisa sebelumnya, Uncharted Love membawa tema romantis, lebih tepatnya cinta segitiga antara 1 perempuan dengan 2 laki-laki. Sampai saat ini, komik Uncharted Love masih ongoing sampai 14 episode dan sudah dibaca sebanyak 1,2 Juta kali. Wow! Angka yang cukup fantastis untuk komik keluaran terbaru.
Authoryang muslimah membuat komik ini juga kental dengan agama Islam. Uncharted Love menceritakan Zahra, tokoh sentral, sebagai perempuan lulusan Sastra Inggris yang kesusahan memulai karir. Indonesian can relate, ini masalah nasional. Namun, tak berselang lama pekerjaan admin berhasil dipeluk Zahra yang overqualified.
Selain disibukkan dengan pekerjaannya, Zahra juga aktif mengikuti kajian di masjid dekat kantor. Yasmin, teman kuliah Zahra, mengajak Zahra ikut serta dalam kegiatan bagi takjil sebagai panitia masjid. Meskipun jadwal padat, Zahra tetap menyempatkan waktu untuk membantu Yasmin, sebab ini bagian dari people pleassure. Ya, orang gak enakan sulit menolak ajakan apapun dari siapapun. Sifat kebanyakan orang Indonesia.
Cerita dimulai ketika Zahra bertemu Aksara, preman kampung yang menjaga wilayah dekat masjid. Aksara menyelamatkan Zahra yang diganggu preman lain ketika pulang kajian sendirian melewati gang gelap. Kejadian itu membekas di pikiran Zahra, begitu juga dengan orang yang menyelamatkannya. Bagaikan takdir, mereka selalu dipertemukan dalam kejadian tak terduga. Zahra bertemu Aksara untuk yang kedua kali di fotokopi saat menemani Yasmin mengurus berkas skripsi. Ketiga, mereka bertemu lagi di kedai Mie Ayam Pak Yono dekat kantor Zahra sampai di rumah Zahra saat Aksara mengantarkan galon.
Semenjak kejadian di gang malam itu, Aksara berinisiatif mengantar Zahra pulang ke rumah. Konflik bermula saat Abi Zahra mengetahui Zahra yang diantar pulang oleh laki-laki sebaya dari tetangga. Abi memang sangat ketat peraturan mengenai hubungan anak-anak perempuannya, sebab Abi Zahra seorang ustadz. Demi menghindari hal yang dilarang agama, Zahra langsung dijodohkan. Mau tidak mau Zahra menuruti kemauan Abi-nya. Akhirnya, Zahra memilih Malik sebagai pasangan ta’arufnya karena sudah pernah bertemu sekali dan kakak dari teman kantornya. Zahra memang bebas memilih pasangan, tetapi Zahra sadar hatinya masih mengarah ke Aksara meskipun Kak Malik pribadi yang baik dan taat agama. Menurut saya, Malik jadi male lead dan Aksara second male lead. Jadi, saya berada di kapal Zahra x Malik, hehehe.
Beberapa kali memberanikan diri menyelami genre bacaan yang berbeda, salah satunya genre horor. Mulai dari terbitan luar negara sampai lokal punya. Komik Journal of Terror karya Sweta Kartika membawa nuansa khas Nusantara yang ketika dibaca bisa meningkatkan frekuensi detak jantung. Terlebih ketika dibaca saat waktu menghampiri tengah malam sekaligus ditemani gemercik hujan.
Kesan pertama ketika melihat sampul komik, tidak semenakutkan cerita yang disertakan. Prana sebagai tokoh utama digambarkan dengan imut sebagai anak laki-laki berusia 5 tahun yang hanya memiliki beberapa helai rambut. Berbeda dengan "makhluk halus" dalam komik ini yang digambarkan lebih serius tanpa meninggalkan detail untuk menambah kesan mengerikan, menjijikan dan kadang kala mengagetkan.
Cerita disuguhi visualisasi gambar yang epik membuat komik Journal of Terror dengan mudahnya membawa perasaan saya selaku pembaca menuju tempat gelap berisi makhluk halus berada. Membaca komik ini membuat tantangan baru dalam hidup saya. Selama membaca puluhan komik, Journal of Terror telah berhasil membuat saya merasakan kehadiran "mereka" di dalam komik.
Para pecinta horor wajib menambahkan komik Journal of Terror sebagai bacaan seumur hidup sekali. Untuk versi cetak sudah tersedia di Gramedia yang terbit tahun 2019 dengan 336 halaman. Menurut saya, harganya sepadan dan tidak berlebihan jika dibandingkan dengan kualitas gambar dan cerita yang disusun Sweta Kartika. Selain cetak, komik Journal of Terror juga tersedia dalam versi digital di Webtoon dengan total 23 episode dan telah dibaca sebanyak 2,1 juta kali.
Dua tiga ayam bakar mail, macam mana saya nak tulis nih mail
Halo teman aksarais! hehehe kali ini aku membahas hal yang tidak perlu dibahas sebetulnya. Tentang diriku sendiri, ya.. okey let's do it🔥🔥
Ngomongin soal diriku sendiri.. sebagai seorang mahasiswi di salah satu Universitas swasta di Indonesia khususnya di Fakultas Sastra tidak membuatku jenuh. Banyak dari teman-teman mahasiwa jurusan lain yang merasa jenuh dan salah jurusan. Aku tidak tau, sejauh ini aku enjoy dengan jurusan Sastra Indonesia ini. Oh ya beberapa tulisanku sudah terpublish di kumparan dan di Indonesiana. Ini salah satu tulisanku yang pure bukan karena suruhan dosen untuk keperluan tugas hahah. Baca tulisanku di sini.
Yap, selain menulis artikel di dua media massa tersebut.. aku juga membuat konten seperti sekarang ini (ini finalnya) di beberapa platform seperti Instagram, Tiktok, YouTube dan Blog. Terkecuali tulisan di blog, aku membuat video dari durasi detik sampai menit yang terkadang FYP. Idk about them, mereka yang menonton dan cara kerjanya, ya begitu lah.
Aku menjadi salah satu pengurus himpunan mahasiswa yang ada di jurusanku. Awalnya aku merasa sangat, ku ulangi, sangat excited dengan semua yang ada dan terjadi dalam himpunan. Ternyata setelah bergabung, memang seru dan mengasyikan, tapi sekaligus lelah fisik dan batinku hahah. Jujur aku kaget ternyata cukup menguras tenagaku sebab aku juga mengikuti salah satu unit kegiatan olahraga yang sudah beberapa kali tak kuhadiri. Maaf, ku kira aku mampu ternyata kalah oleh kesibukan yang tak seberapa ini, eak.
Selain disibukan dengan mereka semua yang telah ku sebutkan namanya satu persatu hahah. Aku juga disibukan dengan liputan. Yap, benar liputan. Mata kuliah jurnalistik juga menjadi salah satu dari sekian banyak mata kuliah di semester 4 ini yang cukup menguras energi dan juga mentalku tentunya. Bertemu orang baru yang menurutku memang perlu ada pendekatan dan rasa percaya diri kita juga persiapan yang matang akan sangat membantu dalam liputan nantinya. Tapi aku merasa terkuras sekaligus senang bisa bertemu mata kuliah jurnalitik ini bersama dosen pengampunya hehe. Seru banget dan aku yakin semester depan akan lebih ✨CHAOS✨. Jadi mari yakinkan dan doakan aku serta teman-temanku bisa melewatinya, aamiin..
Jika bukan sebagai mahasiswi, maka aku sebagai gadis biasa yang bisa dikatakan pemalu. Introvert yang enggan berurusan dengan banyak orang. Tapi keadaan sebagai makhluk sosial mengharuskan kaum introvert sepertiku harus bergerak dan bertindak layaknya orang kebanyakan. Ya, ku lakukan semampuku dengan usaha yang sebisa mungkin dalam level maksimal.
Sudah ya sesi curhat mengenai diriku yang apa adanya ini, terima kasih!
Halo teman aksarais! kali ini aku mau membahas sedikit mengenai puisi yang ada di negeri kita ini hehe karya Taufiq Ismail.
Puisi di Indonesia memiliki sejarah yang kaya dan bervariasi, mencerminkan dinamika sosial, budaya, dan politik yang berkembang di setiap zaman. Sebagai salah satu bentuk ekspresi sastra yang paling personal dan emosional, puisi menawarkan ruang bagi para penulis untuk menyampaikan perasaan, pemikiran, dan refleksi mereka terhadap dunia. Dari puisi tradisional yang kaya dengan simbolisme dan kearifan lokal hingga puisi modern yang lebih bebas dan eksperimental, perkembangan puisi di Indonesia menunjukkan perjalanan yang menarik dan kompleks.
Puisi tradisional di Indonesia, seperti pantun, gurindam, dan syair, memiliki struktur yang ketat dan sering kali digunakan untuk menyampaikan nasihat, petuah, dan kearifan lokal. Pantun, misalnya, dikenal dengan rima yang teratur dan biasanya terdiri dari empat baris dengan pola a-b-a-b. Puisi tradisional ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai alat pendidikan dan penyampaian nilai-nilai moral.
Memasuki era kolonial, puisi di Indonesia mulai terpengaruh oleh sastra Barat. Penulis seperti Chairil Anwar, yang merupakan bagian dari Angkatan '45, memperkenalkan gaya penulisan yang lebih bebas dan ekspresif. Chairil Anwar dikenal dengan puisi-puisinya yang penuh semangat kemerdekaan dan pemberontakan, seperti dalam puisi terkenalnya "Aku". Karya-karyanya menandai awal dari puisi modern di Indonesia, yang lebih individualistik dan eksploratif dalam tema dan gaya.
Puisi kontemporer di Indonesia menunjukkan diversifikasi yang lebih luas dalam tema, bentuk, dan gaya. Para penyair kontemporer mengeksplorasi berbagai isu, mulai dari cinta dan kehidupan sehari-hari hingga politik, lingkungan, dan identitas budaya. Penyair seperti Sapardi Djoko Damono dengan puisi-puisinya yang sederhana namun dalam, seperti "Hujan Bulan Juni", berhasil menggugah emosi pembaca dengan keindahan bahasa yang minimalis.
Di era digital, puisi di Indonesia juga mengalami transformasi dengan hadirnya platform online yang memungkinkan para penyair untuk berbagi karya mereka kepada audiens yang lebih luas. Media sosial dan blog memberikan ruang baru bagi ekspresi puisi, memungkinkan munculnya penyair-penyair muda yang kreatif dan inovatif. Ini juga membuka peluang untuk kolaborasi lintas disiplin, seperti puisi yang digabungkan dengan musik, seni visual, dan pertunjukan.
Puisi tetap relevan sebagai medium untuk menyuarakan perasaan dan pemikiran di tengah perubahan sosial dan budaya yang cepat. Puisi memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati, menciptakan kesadaran, dan menginspirasi tindakan. Dalam konteks politik dan sosial, puisi sering kali digunakan sebagai alat perlawanan dan kritik terhadap ketidakadilan dan penindasan. Sebagai cermin kehidupan sosial, puisi merefleksikan pengalaman kolektif dan individual, memberikan suara kepada yang tidak terdengar, dan menciptakan ruang untuk dialog dan refleksi.
Puisi di Indonesia adalah cermin dari perjalanan sejarah, budaya, dan dinamika sosial masyarakat. Dari bentuk tradisional yang sarat dengan kearifan lokal hingga puisi modern dan kontemporer yang bebas dan eksperimental, puisi terus memainkan peran penting dalam menyampaikan perasaan dan pemikiran manusia. Dengan dukungan dan apresiasi yang berkelanjutan, puisi di Indonesia akan terus berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi dunia sastra dan budaya.
"Karangan Bunga" karya Taufiq Ismail adalah puisi yang mendalam dan penuh makna, mencerminkan kesedihan dan keprihatinan terhadap situasi politik dan sosial di Indonesia pada masanya. Puisi ini menggambarkan suasana berkabung dan kehilangan, dengan penggunaan simbol bunga sebagai representasi duka cita dan penghormatan. Melalui "Karangan Bunga", Taufiq Ismail menyampaikan kritik terhadap ketidakadilan dan penderitaan yang dialami oleh rakyat, sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan realitas yang ada. Karya ini menunjukkan kekuatan puisi sebagai medium untuk menyuarakan kebenaran dan menggerakkan hati pembacanya.
Halo teman aksarais! ngomongin teater tau gak sih pertunjukan teater itu banyak, terutama di kampus dengan fakultas sastra atau ilmu budaya. Kali ini aku mau bahas mengenai teater!
Teater di Indonesia memiliki sejarah panjang dan kaya yang mencerminkan keanekaragaman budaya, tradisi, dan ekspresi kreatif masyarakatnya. Sebagai bentuk seni pertunjukan yang memadukan unsur sastra, tari, musik, dan seni rupa, teater di Indonesia berkembang melalui berbagai fase, mulai dari teater tradisional hingga teater modern. Setiap bentuk teater membawa karakteristik unik yang mencerminkan identitas budaya dan sosial masyarakat Indonesia, sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan pesan moral, kritik sosial, dan hiburan.
Teater tradisional di Indonesia meliputi berbagai jenis pertunjukan yang kental dengan nuansa budaya lokal. Beberapa di antaranya adalah wayang kulit, wayang golek, ketoprak, ludruk, dan randai. Wayang kulit, misalnya, adalah seni pertunjukan boneka bayangan yang sangat populer di Jawa. Dalam pertunjukan ini, dalang memainkan wayang di balik layar putih dengan iringan gamelan, menceritakan kisah-kisah epik seperti Ramayana dan Mahabharata. Wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan penyampaian nilai-nilai moral kepada masyarakat.
Ludruk dan ketoprak adalah bentuk teater rakyat yang populer di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ludruk biasanya menampilkan cerita-cerita keseharian yang dikemas dengan humor, sementara ketoprak mengangkat cerita-cerita sejarah dan legenda. Kedua jenis teater ini sering kali diiringi musik tradisional dan tarian, menciptakan pertunjukan yang menghibur sekaligus mendidik.
Teater modern di Indonesia mulai berkembang pada awal abad ke-20, seiring dengan pengaruh kolonial Belanda dan perkenalan dengan budaya Barat. Salah satu pionir teater modern di Indonesia adalah W.S. Rendra, yang dikenal sebagai "Burung Merak" karena kemampuan luar biasanya dalam berakting dan menulis naskah. Rendra mendirikan Bengkel Teater pada tahun 1967, yang menjadi pusat pelatihan dan pengembangan teater modern di Indonesia. Melalui karya-karyanya, Rendra sering kali mengangkat isu-isu sosial dan politik yang relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia.
Selain Rendra, tokoh penting lainnya dalam teater modern Indonesia adalah Arifin C. Noer dan Putu Wijaya. Karya-karya Arifin C. Noer seperti "Kapai-Kapai" dan "Umang-Umang" dikenal dengan gaya realis dan kritik sosial yang tajam. Putu Wijaya, di sisi lain, dikenal dengan gaya absurd dan eksperimentalnya, menghadirkan teater yang penuh dengan simbolisme dan metafora.
Teater kontemporer di Indonesia terus berkembang dengan munculnya kelompok-kelompok teater independen yang inovatif dan eksperimental. Kelompok-kelompok ini sering kali menggabungkan elemen-elemen tradisional dan modern, menciptakan bentuk pertunjukan yang segar dan dinamis. Salah satu contohnya adalah Teater Garasi di Yogyakarta, yang dikenal dengan pendekatan multi-disiplin dan eksplorasi tema-tema sosial dan politik yang mendalam.
Teater kontemporer juga semakin mendapatkan tempat di kancah internasional, dengan beberapa kelompok dan seniman teater Indonesia sering kali diundang untuk tampil di festival-festival teater dunia. Ini tidak hanya menunjukkan kualitas dan kreativitas teater Indonesia, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada audiens global.
Meskipun teater di Indonesia terus berkembang, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah kurangnya dukungan finansial dan fasilitas yang memadai untuk para seniman teater. Selain itu, minat masyarakat terhadap teater juga masih relatif rendah dibandingkan dengan bentuk hiburan lainnya seperti film dan televisi. Namun, dengan upaya yang terus menerus dari para pelaku teater untuk menciptakan karya-karya yang relevan dan inovatif, serta dukungan dari pemerintah dan masyarakat, teater di Indonesia memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan berkembang.
Teater di Indonesia adalah cerminan dari kekayaan budaya dan kreativitas bangsa. Dari teater tradisional yang sarat dengan nilai-nilai lokal hingga teater modern dan kontemporer yang penuh dengan inovasi, teater Indonesia terus memainkan peran penting dalam menyuarakan isu-isu sosial, budaya, dan politik. Dengan dukungan dan apresiasi yang lebih besar, teater di Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan seni dan budaya di Indonesia.