Halo, sobat aksarais! Kali ini kita bakal bahas topik yang sebenernya ada tapi jarang orang perhatikan. Ada yang bisa coba tebak? Yap, buku! Kasihan banget ya kalo jadi buku yang jarang bahkan gak pernah dibaca. Sedih, karena persaingan sama Sosmed tu sengittt banget dan yang menang telak pasti sosmed. Di zaman sekarang kan buku udah ada versi digital juga, namanya e-book. Bisa diakses dari aplikasi atau.. website deh, salah satunya ipusnas. Yuk, kita menyelami alasan di balik nasib buku yang jadi tragis gitu.
Sobat aksarais pasti udah gak asing lagi kan dengan sebutan buku adalah jendela ilmu, atau jendela dunia. Di sekolah dulu diajarkan membaca sedari kecil sehingga terbiasa ketika dewasa. Memang harusnya seperti itu, tapi faktanya buku masih dianggap “kurang penting” sebab kita merasa belum ada urgensi untuk membaca. Terlebih buku bacaan ilmiah dan bacaan serius.
Aku gak mengklaim semua orang malas membaca, tapi kebanyakan atau mayoritas seperti itu dan yang tidak hanya minoritas. Padahal, dengan membaca buku kita bisa membuka cakrawala kehidupan. Kita bukan seorang petani tapi jadi bisa memahami dan tahu mengenai pertumbuhan pohon dengan membaca buku biologi atau yang lebih spesifik buku seputar dunia pohon. Sebab membuat sebuah buku perlu riset yang mendalam, terlebih buku-buku pengetahuan yang diedarkan di sekolah untuk kebutuhan belajar mengajar. Mengapa orang-orang lebih berminat pada tulisan di Sosial Media, apa karena tren? apa karena singkat? atau karna lebih menyenangkan dan gak bikin mumet?
Sebenarnya kita bukan tidak menyukai bacaannya dan bukannya tidak menarik. Tapi kita cuma “menghidari” membaca buku sebab adanya statement, persepsi, pandangan atau mindset yang membentuk anggapan kita terhadap buku yang berisi tulisan banyak itu. Kalo zaman sekarang, kebanyakan over thingking namanya. “Ah, males, tulisannya banyak pasti ngebosenin”. Penyakit yang sudah bertransformasi menjadi budaya ini kian mengental dengan darah pribumi masa kini. Terutama kalangan Gen Z dan Alpha, tapi Indomaret gak diajak.. hahah.
Darimana sih kalo mau memperbaiki budaya tersebut? Ya, biasakan. Kan bisa karena terbiasa. Mulai saja dulu, kalo kamu memang belum bisa baca buku bisa dari bacaan ringan dan singkat kayak berita di koran, artikel. Jangan langsung baca sekaligus, tapi bertahap biar otaknya gak kaget. Awalnya baca 3 halaman jadi 5, 7, 10 sampe seterusnya dan bisa selesai baca 1 buku. Lumayan loh 1 bulan selesein 1 buku, setahun sudah ada 12 buku yang udah kamu baca. Keren deh pokoknya.
Yang penting niat, atau minimal ada kemauan membaca buku langsung digas aja. Kalo tunggu niat kebentuk pasti ga akan mulai. Maka dari itu, yuk biasakan budaya membaca. Mulai dari diri sendiri saja dulu, nanti kamu bisa ajak orang sekitar dari keluarga, bahkan teman. Seru ya, kalo punya banyak topik mengenai kehidupan karena secara otomatis kosakata yang ada di kepala kamu nambah dan itu bakal disimpen sama otak. Karena seperti kita, otak juga butuh asupan. Manusia aja kalo gak dikasih asupan yang seimbang bakalan sering error dan gak singkron.
Jadi kita harus bisa mengimbangi bacaan tersebut ya, bacaan fiksi juga non-fiksi. Santai aja karena hidup masih terus berjalan walau kamu lari, lebih baik jalan beriringan biar ga terlalu berat. Terimakasih sudah membaca sampai sini, keren! (jempol)
#sasindounpam #madzhabpiktor #sastraindonesiapamulang #pamulangunpamkita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar