Halo! Teman-teman aksarais, karena aku dari prodi Sastra Indonesia atau Sasindo kali ini aku mau mengulas sedikit tentang sastra berbentuk novel. Kira-kira novel apa ya?
Novel ini terkenal banget ya, bahkan selalu ada di rak best seller Gramedia! Wow dabest yaa.. juga ada versi hard covernya loh! Ga kaleng-kaleng deh pokoknya.
Buku novel dengan sampul berwarna dominan biru cukup pekat yang menggambarkan keindahan laut dalam dan terumbu karang ini mencuri perhatian dari sejak pertama kali rilis. Novel “Laut Bercerita” salah satu karya tulisan dari Leyla Salikha Chudori.
Pertama kali terbit tahun 2017 dengan genre fiksi historical. Sudah menyabet penghargaan bergengsi Sastra Asia Tenggara (S.E.A Award) tahun 2020. Anak sastra pasti udah gak asing sama ungkapan bahwa sastra adalah cerminan atau rekaan dari kehidupan nyata. Ya, novel Laut Bercerita diangkat dari kisah nyata, kisah hilangnya 7 aktivis rezim Orde Baru. Memang apa yang mereka lakukan? Ke mana mereka pergi? Siapa dalang dibalik hilangnya para aktivis tersebut? Semua diceritakan penuh emosional dalam novel ini.
“Biru Laut Wibisana” seorang tokoh sentral dalam novel “Laut Bercerita” walaupun dengan judul tersebut. Nyatanya novel ini tidak hanya bisa dirasakan dari persepsi Laut sebagai perwakilan para aktivis, korban jeleknya rezim Orde Baru. Tetapi, ada POV lain dari para keluarga korban yang diwakilkan Asmara, adik perempuan Laut dalam novel Laut Bercerita.
Mereka, para aktivis itu berasal dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam organisasi bernama Winatra dan Wirasena. Berlatar di kampus ternama di Yogyakarta, Universitas Gajah Mada atau yang lebih dikenal dengan sebutan UGM.
Kegiatan para mahasiswa aktivis Winatra dan Wirasena murni dari intuisi sesama rekan mahasiswa yang ingin melakukan perubahan positif, sekecil apa pun untuk memperbaiki pemerintahan di negeri ini. Sebab di masa ini demokrasi belum ditemukan. Sehingga sulit untuk sekedar mengutarakan pendapat, masa sebelum perubahan terjadi.
Tanpa adanya sokongan dari pihak mana pun, mereka bergerak secara serentak bersama-sama. Rintangan demi segala rintangan dialami dan dilalui. Penculikan hingga penyiksaan tidak membuat mereka jera sehingga menyerah, justru mengobarkan api semangat berdedikasi untuk memajukan negara ini, secara secara hak.
Menurutku pribadi ini adalah sebuah novel tragedi yang berisi teka-teki dan masih menyimpan kerancuan. Ending yang masih dibilang menggantung, tidak ada kejelasan apa pun tentang mereka yang hilang. Bahkan pemerintah seolah tutup mata atas kejadian kelam ini. Entah bagaimana perasaan dan nasib mereka para keluarga korban penghilangan paksa ini.
Campur aduk pasti terasa saat membaca dan menyelami sela-sela paragraf yang menyusun bayang kejadian yang para aktivis alami. Tampak nyata hingga kerap kali terbawa suasana terlalu jauh.
Ku bilang campur aduk, mengapa? Sebab tragedi 1998 ini dikemas dengan baik dalam 374 halaman novel ini. Layaknya kehidupan, kisah ini dibumbui romansa tokoh sentral antara Laut dengan Anjani disusul pasangan Asmara dan Alex. Walaupun lebih dominan aksi yang membuat adegan tegang dan membuat jantung tak karuan, komedi muncul di waktu yang nyaman.
Lantas saja pengkhianatan menyambut tawa candamu saat membaca novel laut bercerita ini seakan-akan mengingatkan bahwa ini ialah cerita tragedi memilukan. Aku akui pemilihan diksi dalam novel ini cukup untuk menarik jiwamu yang tenang menjadi sedikit terombang-ambing.
Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali.. potongan sajak yang membuka cerita dalam novel ini. Yang selalu mengingatkan kehadiran mereka yang telah hilang. Semoga, semoga saja suatu hari nanti akan ada kejelasan dari ketidakpastian juga ketidakadilan yang menghantam jiwa-jiwa mereka dengan arogan.
#sasindounpam #madzhabpiktor #sastraindonesiapamulang #pamulangunpamkita


Tidak ada komentar:
Posting Komentar